Kamis, 18 September 2014

Renungan Indah – W.S. Rendra (yang terakhir)


Seringkali aku berkata..
Ketika semua orang memuji milik-
ku....
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah
titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-
Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-
Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-
Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-
Nya
Tetapi... mengapa aku tak pernah
bertanya :
Mengapa Dia menitipkannya
padaku ???
Untuk apa Dia menitipkan ini
padaku ???
Dan kalau bukan milikku, apa yang
harus kulakukan untuk milik-Nya
itu ???
Adakah aku memiliki hak atas
sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali
oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu
sebagai musibah...
Kusebut itu sebagai ujian...
Kusebut itu sebagai petaka...
Kusebut itu sebagai panggilan apa
saja untuk melukiskan kalau itu
adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan
hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah
hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih-Nya
harus berjalan seperti matematika.
Aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita
menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap
menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra
dagang,
dan bukan kekasih,
Kuminta Dia membalas “perlakuan
baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang
tak sesuai keinginanku.
Ya Allah.....
Padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanya untuk
beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan sama
saja”….
(Puisi terakhir Rendra yang
dituliskannya di atas tempat tidur
Rumah Sakit)